
CIAMIS, RubrikJabar.com – Pemerintah Kabupaten Ciamis menggelar perayaan Milangkala Gong Perdamaian Dunia Ciamis di Situs Budaya Karangkamulyan pada Rabu, 9 September 2026.
Oleh karena itu, acara sakral ini menyoroti pentingnya peran sejarah lokal dalam merespons berbagai krisis geopolitik global.
Namun, semangat “Merajut Harmoni Menjaga Perdamaian” tetap menjadi tema utama. Tema ini bertujuan untuk mewujudkan ketertiban abadi bagi seluruh umat manusia.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menegaskan keistimewaan peringatan tahun ini di tengah tantangan zaman yang kompleks. Selain itu, ia menilai konflik internasional memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Di satu sisi kita merayakan simbol perdamaian dunia, namun di sisi lain kita menyaksikan konflik geopolitik,” ungkap Herdiat di hadapan para tamu undangan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peperangan global memicu efek domino yang sangat dirasakan masyarakat luas. Oleh sebab itu, pemerintah daerah berupaya merumuskan solusi strategis dari tingkat lokal.
“Dampaknya sangat luar biasa, salah satunya kenaikan harga BBM yang terus terjadi,” jelas Bupati Herdiat.
Kondisi ekonomi tersebut mendorong Herdiat mencetuskan visi besar untuk mengangkat diplomasi Ciamis ke kancah internasional. Sementara itu, ia menilai Tatar Galuh memiliki legitimasi historis kuat sebagai pusat perdamaian masa lalu.
“Sudah sepantasnya kita mengundang kepala negara lain ke sini,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berencana mengundang para duta besar negara sahabat untuk hadir langsung. Selanjutnya, gerakan moral ini dimulai dari Ciamis demi menciptakan ketertiban dunia.
“Tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki keinginan yang tinggi,” imbuhnya penuh optimistis.
Akar Sejarah Tatar Galuh dan 10 Perjanjian Damai
Bupati Herdiat mengingatkan bahwa kedamaian kokoh membutuhkan ikhtiar nyata dan komitmen kolektif. Sebab, perdamaian lahir dari perjuangan panjang para leluhur bangsa.
Selain itu, ia memaparkan kebanggaan atas jejak peradaban Tatar Galuh yang sangat visioner. Perayaan Milangkala Gong Perdamaian Dunia Ciamis menjadi momentum tepat merenungkan nilai luhur tersebut.
“Jauh sebelum Indonesia lahir, Tatar Galuh Ciamis menorehkan jejak agung tentang perdamaian,” paparnya.
Peristiwa bersejarah pada tahun 739 Masehi melahirkan Mupulung Rahi atau 10 Perjanjian Damai Galuh. Dengan demikian, kearifan lokal masyarakat Sunda terbukti menjunjung tinggi prinsip diplomasi damai sejak dulu.
Sementara itu, Anton Charliyan atau Abah Anton menyampaikan orasi budaya selaku pendiri Gong Perdamaian Dunia. Di samping itu, ia menjelaskan bahwa naskah kuno nusantara mencatat Karangkamulyan sebagai lokasi musyawarah damai.
Menjaga Warisan Leluhur untuk Masa Depan
Mengakhiri arahannya, Bupati Herdiat memberikan instruksi tegas kepada seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, ia berpesan agar peringatan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
“Jadikan Ciamis sebagai rumah nilai perdamaian sejarah,” pesan Bupati Herdiat.
Selanjutnya, penyemaian nilai luhur ini harus terus dilakukan sejak usia dini agar generasi penerus memahami akar identitasnya. Rangkaian acara Milangkala Gong Perdamaian Dunia Ciamis diharapkan mampu menggema hingga tingkat global.





